Sabtu, 07 Juli 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 9, Berargumentasi dan Lobbying


Sekolah Danlap 2018 : Day 9

Berargumentasi dan Lobbying

Hari ini seharusnya menjadi hari yang sangat melelahkan bagi para Kingsmen, hearing dan Sekdan menjadi suatu rangkaian kegiatan yang wajib diikuti hari ini. Namun hari ini, saya tidak bisa menghadiri rangkaian kegiatan tersebut dikarenakan penuhnya hari ini dengan rangkaian kegiatan yang sudah dipersiapkan oleh keluarga sebelumnya. Berdasarkan hasil matrikulasi yang diberikan oleh rekan – rekan Kingsmen, materi yang diberikan pada pertemuan kali ini berkaitan dengan Berargumentasi dan Lobyying.

Argumentasi adalah suatu opini yang didasari oleh bukti data yang jelas dan pasti. Argumentasi harus didasarkan dengan kombinasi antara pikiran, perasaan dan kemauan bebas. Dari matrikulasi, agar argumen dapat berguna sesuai dengan tujuan argumen tersebut dilontarkan dapat dilakukan dengan melakukan rekayasa sosial. Rekayasa ini mencakup ruang, waktu, hubungan dan atau perasaan.

Kemampuan berargumentasi ini akan dapat diturunkan oleh seorang Danlap dalam melobi atau Lobbying. Dan pada dasarnya, tujuan utama dari Lobyying adalah untuk bagaimana kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Lobyying adalah proses timbal balik dua belah pihak dalam rangka mencapai sebuah kesepakatan yang tidak merugikan kedua belah pihak. Lobbying pun dapat mengurangi hal – hal yang sifatnya merugikan entah pihak manapun dan menghambat keluarnya suatu kebohongan. Kompetensi dalam Lobbying hanya bisa dipelajari dengan cara dipraktekan secara langsung.

Jumat, 06 Juli 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 8, Menggali Esensi dan Makna Tersembunyi : Special Part


Sekolah Danlap 2018 : Day 8

Menggali Esensi dan Makna Tersembunyi : Special Part

Hari demi hari Sekdan para Kingsmen lalui, semakin banyak kejutan – kejutan yang diberikan. Mulai dari kehadiran Soter dan perpanjangan – perpanjangan tangan lainnya dari Danlap terdahulu, hingga pada mala mini menurut saya kejutan itupun memuncak. Pada hari ini, hadir 2 sosok spesial, Semar (Korlap ‘14) dan Demos (Danlap ’14). Kehadiran mereka pada malam ini ternyata menghardirkan berbagai siksaan bagi kami para Kingsmen yang memang dari segi pelanggaran SOP yang berlaku sudah terlalu mengecewakan. Saya sudah terlalu lelah dan bingung untuk menyebutkannya satu per satu kembali. Namun hukuman – hukuman yang diberikan sepertinya sulit untuk saya lupakan. Mulai dari yang berupa fisik seperti menahan posisi push up selama 15 menit sembari latihan olah suara yang berisikan ucapan tentang kesalahan – kesalahan kami hari itu hingga yang berupa serangan batin seperti hukuman yang diterima Sir Kay untuk duduk dan memakan kue sembari rekan Kingsmen lain menahan posisi push up. Dan hari ini pun, saya merasakan bahwasanya kemampuan dialektis kami benar – benar dilatih, kami dipacu untuk terus berpikir taktis dan terus memberikan rasionalitas yang logis.

Walaupun ingatan saya malam kemarin cukup menipis karena kelelahan, ada dua tugas yang diberikan yang mana menurut saya sangat berbekas dalam diri saya. Yang pertama adalah tugas dimana kita para Kingsmen harus dapat menilai urutan kelayakan seorang Danlap dari Kak Danar, Kak Raynard dan Kak Fikal dengan parameter – parameter yang jelas dan tak bias. Disini sebagai mahasiswa PL – Cirebon yang belum seberpengalaman itu dalam bertemu dan mendalami diri ketiga orang tersebut, kami ditugaskan hanya sebagai Supporting System untuk mereka Cadanlap yang dari Ganesha. Disini kami yang Cadanlap PL – Cirebon berkontribusi dalam dua bentuk, pertama kami sebelumnya menjadi bom waktu bagi rekan Cadanlap Ganesaha dan karena terlalu lama, akhirnya kami diminta untuk mengkritisi parameter yang dibuat dan dalam pengonsepan pembobotan dalam rangka membuat dan menghasilkan hierarki yang jelas dan berdasar. Kemudian para Kingsmen pun memaparkan hasil pemikiran kami tersebut kepada Demar, Demos dan beberapa warga lainnya. Disini saya merasakan betul bagaimana kami harus mempertahankan pendapat kami, dan disini saya akhirnya paham bahwa penentuan parameter suatu penilaian tidak bisa ditentukan secara subjektif kami belaka. Harus ada dasar yang mendasari yang mana khalayak banyak mengakui dasar tersebut sebagai sebuah axioma. Saya pun merasa tersadarkan bahwasanya kami para Kingsmen masih jauh dari kata layak sebagai orang yang akan memegang titel seorang Danlap.

Bukan tentang diri sendiri, ini tentang HMP
Bukan tempat belajar, tapi ajang pembuktian

Kemudian tugas kedua yang diberikan adalah yang paling sulit, yang sebenarnya sejak awal saya mengikuti Sekdan tugas ini sudah diberikan. Tugas ini adalah menyakan kembali kepada hati terdalam kami apa yang sebenarnya menjadi motivasi kami mengikuti Sekdan ini. Disini kami dipacu dengan hukuman fisik agar terus berpikir, menggali esensi dan mencari makna tersembunyi. Dari 3 alasan yang benar – benar saya utarakan dari hati saya yang terdalam, tidak ada satupun alasan tersebut yang dibenarkan sebagai motivasi mengikuti Sekdan yang lurus. Pada dasarnya ada 2 hint yang diberikan, yang pertama, motivasi yang lurus adalah tidak mengedepankan diri sendiri karena Sekdan bukan tentang diri sendiri melainkan tentang HMP. Yang kedua, motivasi yang lurus tidak menjadikan Sekdan ini sebagai ajang pembelajaran, namun kami harus menjadikan Sekdan ini ajang pembuktian. Diambang keputusasaan, akhirnya ada jawaban yang cukup mendekati, Sir Lamorak memaparkan motivasi yang sebenarnya sempat hamper terpikirkan pula sebelumnya. Bunyinya ialah..

Menjadi Penggerak Warga yang Dipercaya Demi Mencapai Tujuan Bersama HMP


Namun jawaban tersebut belum membuat Demos puas dan menghadiahi kami lusinan seri push up. Akhirnya karena tidak mampunya kami memberikan jawaban yang memuaskan, kami diberi tugas – tugas tambahan yang terlalu membingungkan apabila saya jelaskan satu per satu. Dibawah tekanan – tekanan eksternal dari keluarga ditambah dengan adanya demotivasi pada diri saya, membuat saya semakin bertanya – tanya apa sebenarnya yang sedang saya lakukan. Saya menyanyakan apa esensi dari beban tugas – tugas yang diberikan tersebut dan saya hanya mencoba terus mengingat kalimat Demos untuk menjaga motivasi saya yang sudah diambang batas..

Tidak ada yang terlalu sulit, Tidak ada yang tidak beresensi

Kamis, 05 Juli 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 7, Dialektika Lapangan


Sekolah Danlap 2018 : Day 7

Dialektika Lapangan

Hari ini, Sekdan dilaksanakan lebih malam daripada biasanya. Jam 21.15 WIB kami diminta untuk hadir di Pilotis GD dengan spek seperti biasanya. Hari ini pun salah satu dari kami, Faiq alias Sir Gaheris, berhalangan hadir karena penyakit migrain dan kondisinya mengharuskan dia untuk istirahat pada kesempatan kali ini. Sebuah inisiatif yang terlambat dilakukan oleh kami para Kingsmen untuk memastikan kondisi kesehatan dari Sir Gaheris malah membuahkan keterlambatan bagi kami. Akhirnya kekecewaan Ratu kembali memuncak pada pertemuan kali ini dan seperti biasa, melahirkan sebuah konsekuensi. Konsekuensi yang harus kami lakukan kali ini pun cukup berat yakni membuat sebuah infografis yang didalamnya memuat inputan – inputan warga terkait materi dan metode osjur kali ini.

Hari ini, materi diisi oleh Kak Sangkara (HMP ‘13) yang merupakan ketua MPAB beberapa tahun yang lalu. Kejaran materi yang ingin disampaikan olehnya adalah terkait dengan Dialektika Lapangan. Tidak biasanya, bentuk pemberian materi kali ini full dalam bentuk FGD dan diskusi. Dari beberapa pendapat dan inputan dari rekan - rekan Kingsmen, saya mendapatkan beberapa gambaran terkait definisi dari Dialektika itu sendiri. Seperti, menurut Amar alias Sir Lamorak, Dialektika merupakan sebuah seni dalam beradu argumen. Kemudian menurut Prima alias Sir Parcival, Dialektika merupakan sebuah proses pertukaran gagasan pikiran dalam fase lapangan. Menurut Kak Sangkara, Dialektika adalah cara berdiskusi dalam rangka mencari kebenaran dari sebuah opini. Didalam sebuah Dialektika, idealnya didalamnya terkandung 3 unsur yakni Tesis, Anti-Tesis dan Sintesis.

Dalam konteks dunia perlapangan MPAB, Sintesis sudah ditentukan secara pasti yakni sebagai nilai yang ingin ditanamkan kepada peserta kader. Dengan berbekalkan sebuah tesis yang sudah dipersiapkan sebelumnya, seorang Danlap harus siap beradu argumen, berdiskusi tanpa menurunkan impresi dan dapat mengarahkan pembicaraan hingga mencapai Sintesis yang sudah ditentukan. Disinilah letak kegunaan Dialektika, berguna ketika Danlap ingin menyampaikan sebuah materi. Berguna untuk membuat ragu peserta kader akan kepantasan mereka menginjak Tanah Pangripta sehingga mudah untuk didoktrinasi. Kemampuan ini juga berguna untuk mengurangi resiko kesalahan pada keadaan dimana seorang Danlap dituntut untuk berdebat secara freestyle dengan peserta kader karena adanya suatu keadaan yang tidak dipersiapkan sebelumnya.

Kemudian, Kak Sangkara pun berpesan bahwasanya Dialektika dengan peserta kader hanya dapat berjalan dengan lancar ketika Danlap mengetahui segala hal, tentang bagaimana keadaan HMP saat ini dan bagaimana keadaan para peserta kader tersebut. Disini saya melihatnya bahwa 2 hal tersebut adalah 2 buah senjata yang digunakan untuk berperang dimana yang satu digunakan untuk bertahan dan satu lagi untuk menyerang. Seorang Danlap harus menyerang bagian lemah dari peserta kader yang mana tidak bersesuaian dengan nilai yang seharusnya ada. Dan ketika ada serangan balik dari mereka, seorang Danlap dapat memberikan impresi yang menggambarkan bagaimana keadaan didalam HMP untuk bertahan.

Kemudian di penghujung diskusi, Kak Sangkara juga menyinggung bahwasanya Sintesis yang berupa nilai yang ingin ditanamkan tersebut tidak akan dapat berubah, atau bahasa lainnya dapat menjadi sebuah Tesis. Satu unsur yang dapat memungkinkan Sintesis tersebut dapat berubah menjadi Sintesis adalah dengan meninjau relevansi dari Sintesis tersebut.

Hari ini,pertemuan ditutup dengan eval yang halus namun menusuk. Yudhistira si bijaksana alias Kak Danar memberikan evaluasi atas performa kami yang tak pasti. Kini kami harus pikirkan kembali apa motivasi yang menarik kami hingga menyanggupi Sekdan ini.

Minggu, 01 Juli 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 6, Olah Ruang dan Medan Pertempuran


Sekolah Danlap 2018 : Day 6

Olah Ruang dan Medan Pertempuran

Tidak seperti biasanya, hari ini Sekdan dilaksanakan pada jam yang lebih cepat. Jam 19.00 WIB kami diminta hadir dengan membawa spek biasanya serta spek tambahan berupa kertas folio sebanyak 2 lembar. Dan tidak seperti biasanya pula, pertemuan kali ini menjadi pertemuan yang pertama kali tidak bisa saya hadiri karena adanya permintaan mendadak dari orang tua yang tidak bisa saya tolak. Saya pun merasakan adanya kekecewaan tersendiri dari sang Ratu dan mungkin izin kali ini harus saya jadikan izin yang pertama kalinya sekaligus untuk yang terakhir kalinya.

Dari matrikulasi yang diberikan oleh rekan – rekan Kingsmen yang menghadiri Sekdan kali ini, inti materi yang diberikan pada pertemuan kali ini berkenaan dengan pertemuan sebelumnya, yakni terkait dengan Olah Ruang. Dari matrikulasi yang dipaparkan, saya memahami bahwasanya Olah Ruang merupakan hal yang sangat penting. Karena apabila kita kontekskan dalam sebuah pertempuran sungguhan, Olah Ruang merupakan bagaimana kita seorang komandan perang dapat mengenali dan menganalisis medan pertempuran sehingga kita dapat memetik keunggulan kompetitif dari setiap medan – medan yang ada. Kemampuan Olah Ruang seorang komandan perang akan berkaitan dengan bagaimana komandan tersebut dapat mengalokasikan dan menempatkan pasukannya, juga bagaimana menyesuaikan setiap alternatif strategi yang ada dengan keadaan sekitar. Olah Ruang juga merupakan kompetensi yang harus didalami oleh seorang komandan perang karena dengan penguasaan kompetensi tersebut seorang komandan perang diharapkan dapat merespon kedinamisan pertempuran dengan cepat dan tepat. Dalam konteks perdanlapan, saya pun memahami bahwa Ruang merupakan sebuah komponen penting dalam fase lapangan karena akan dijadikan dasar untuk menentukan dimensi waktu, kebutuhan lapangan hingga turun menjadi teknis lapangan. Dan berkaitan dengan materi – materi sebelumnya, dalam pelaksanaannya, seorang Danlap dituntut untuk bisa menguasai keempat kompetensi lainnya.

Pada pertemuan kali ini, saya diceritakan bahwa para Kingsmen ditugaskan untuk melakukan orientasi ruangan pada Lapangan SR, Pilotis GD, Kanopi TL, Selasar Plano, Lapangan Barak, dan Amphi Arsi. Dan pada penghujung pertemuan, para Kingsmen diminta untuk membuat teklap acara opening dan Day 1 untuk acara MPAB. Hal – hal tersebut merupakan ilmu yang saya nilai sangat berguna dan sangat saya sayangkan saya tidak bisa mendalaminya secara langsung. Sebuah kerugian yang cukup besar yang saya dapatkan dari ketidakhadiran saya kali ini.

Selasa, 26 Juni 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 5, 5 Olah dan Orasi


Sekolah Danlap 2018 : Day 5

5 Olah dan Orasi

Hari ini adalah pertemuan pertama setelah liburan panjang lebaran, kami dituntut untuk hadir jam 20.00 WIB pada tempat seperti biasanya. Sepertinya jiwa Danlap para Kingsmen sedikit melunak dan terlupakan kembali, secara spesifik untuk saya. Kesigapan kami terlihat berkurang kembali terutama pada diri saya yang kebetulan pada hari itu kurang enak badan karena belum sempat makan malam serta cuaca yang tidak bersahabat. Dan seperti biasa, performa yang tidak dapat memuaskan Ratu akan melahirkan sebuah konsekuensi untuk kami. Dan hari ini, 7 keliling lari dan 9 seri sepertinya semakin membuyarkan konsentrasi dan fokus saya dalam mengikuti sekdan kali ini. Namun sebagai orang yang menyandang nama Sir Galahad, Tuan Kemuliaan dan Budi Pekerti, demi segala kemuliaan dan budi pekerti yang saya usahakan saya pegang teguh, saya tetap berusaha berdiri tegap dan menjalani sekdan kali ini dengan segala kekuatan saya yang tersisa kala itu. Karena saya pun berusaha memaknai Danlap sebagai orang yang harus senantiasa memasang dirinya paling depan diantara pasukannya dan harus menjadi orang yang paling terakhir tumbang diantara pasukannya.

Kemudian malam ini, langit yang cerah memberkati kita. Rembulan terlihat menunduk segan karena kehadiran sesosok jiwa yang special. Olympus hari ini berkenan untuk bertemu dan memberikan pelajaran serta berbagai macam pemaknaan melalui sesosok perpanjangan tangan. Dia adalah demigod keselamatan dan keamanan, Soter, sebuah kehormatan dapat bertatapan serta belajar langsung darinya.

Inti materi hari ini pada dasarnya adalah menjelaskan 5 kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh seroang Danlap. 5 hal tersebut adalah olah fisik, olah pikir, olah rasa, olah suara dan olah ruang. Olah fisik diperlukan oleh seorang Danlap karena dia dituntut untuk memiliki stamina, keluaesan, kekuatan dan keseimbangan lebih dibandingkan pasukan – pasukan lainnya. Lalu olah pikir diperlukan karena seorang Danlap dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan komprehensif. Olah suara diperlukan seorang Danlap agar dapat senantiasa memiliki dinamika, intonasi dan artikulasi yang tepat dan mantap. Kemudian olah rasa diperlukan karena seorang Danlap dituntut untuk dapat memiliki kemampuan lebih dalam membaca serta merespon situasi dan kondisi, menjiwainya dan menampilkannya. Dan untuk olah ruang, kami belum dijelaskan secara lebih mendalam kala ini. Kelima kompetensi dasar tersebut, seluruhnya akan digunakan secara bersamaan pada saat seorang Danlap berorasi. Maka dari itu, orasi bukanlah hal yang mudah. Orasi tidak melulu dikaitkan dengan berbicara keras dan lantang tanpa memperhatikan serta menjiwai situasi dan kondisi. Dan lebih dari itu, orasi dapat menjadi titik vital penilaian mereka yang dikader terhadap profesionalitas kaderisasi yang berlangsung. Hal itu yang ditekankan pada hari ini oleh Olympus yang ingin diturunkan kepada kita.


Rabu, 06 Juni 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 4, Berpikir Kritis dan Komprehensif


Sekolah Danlap 2018 : Day 4

Berpikir Kritis dan Komprehensif

Hari ini tidak seperti biasanya, kami dituntut untuk hadir 1 jam lebih cepat dari biasanya. Dan tidak seperti biasanya, hari ini para Kingsmen benar – benar membuat sang Ratu kecewa. Dengan tanpa ragu terbesit sedikit pun pada hatinya serta penuh kasih sayang ia tekankan di setiap tutur katanya, dia mengingatkan dan menyadarkan kembali kami para Kingsmen untuk sadar bahwa perang memperjuangkan tanah pangripta bukanlah sebuah permainan dan masih jauh dari kata berakhir. Sang Ratu menekankan bahwa performa kami para Kingsmen kali ini turun drastis, penilaian tersebut didapat dengan melihat para Kingsmen melakukan 3 kesalahan fatal yang lebih buruk dibandingkan yang pernah dilakukan sebelumnya, yakni terlambat datang pada pertemuan hingga 7 menit, terlambat mengumpulkan tugas hingga belasan jam dan kesigapan kami turun. Pemberlakuan hukuman pun dilakukan seperti biasa.

Namun hari ini saya, Sir Galahad, tanpa mematahkan pendapat sang Ratu atas kesalahan – kesalahan kami, tetap merasa sedikit kecewa pada awalnya karena sang Ratu memaparkan kesalahan kami tanpa mengetahui terlebih dahulu apa – apa tuntutan eksternal masing – masing dari kami, termasuk saya. Beberapa hari kebelakang hingga hari ini, saya merasa banyak sekali tuntutan – tuntutan eksternal yang menurut saya menghambat kinerja dan performa saya. Yang bermasalah adalah, tuntutan tersebut berasal dari orang tua saya. Saya harus bisa menimbang dan tentunya berpikir lebih panjang disini dimana saya terancam tidak diperbolehkan mengikuti pertemuan meja bundar bersama Kingsmen lainnya sama sekali lagi apabila tidak memenuhi tuntutan tersebut.

Terlepas dari itu, hari ini para Kingsmen didatangkan seorang pemateri yang melegenda. Dia sang ‘Kuda Hitam’ kini hadir ditengah para Kingsmen untuk menurunkan pengalaman dan pengetahuannya yang sudah sangat banyak dalam membela tanah pangripta. Hari ini materinya berkenaan dengan sosok seorang Danlap yang harus bisa membawakan materi nanti di lapangan dengan menggunakan berbagai strategi dan siasat yang sudah direncanakan dengan sangat matang. Namun untuk bisa mendapatkan serta mematangkan strategi dan siasat tersebut, seorang Danlap harus memiliki satu keahlian khusus yang harus bertaraf lebih tinggi dibandingkan orang – orang disekitarnya, yakni berpikir Kritis dan Komprehensif. Berpikir Kritis memiliki arti bahwa kita seorang Danlap harus berpikir secara mendalam dalam memahami suatu isu atau masalah. Parameter seseorang sudah berpikir Kritis atau belum adalah orang tersebut sudah menjiwai 3 hal dalam pola pikirnya atau belum, yakni Intuitif, Evaluatif dan Kreatif. Intuitif adalah berusaha mendeteksi keberadaan dan memahami isu dan permasalahan yang ada disekitar kita. Evaluatif adalah selalu memaparkan gagasan disertai gerakan pasti yang nyata dan solutif dalam menanggapi masalah tersebut. Kreatif adalah berusaha untuk senantiasa berpikir rasional dan memanfaatkan logika, mengombinasikan pengetahuan dalam pengalaman, sehingga seorang Danlap dapat memberikan sebuah kebijakan dan keputusan yang tidak terkesan bodoh dan sempit. Namun pemikiran yang kritis tidak akan pernah tertanam dalam pikiran kita apabila kita belum bisa berpikir secara Komprehensif. Berpikir Komprehensif adalah berpikir secara luas, radikal dan menyeluruh. Pola pikir yang menuntut kita untuk mengenali suatu masalah tidak dari satu sudut pandang saja dan mendalam hingga ke akarnya. Dengan adanya dua pola pikir tersebut, seorang Danlap di lapangan akan dapat merespon suatu masalah yang terjadi dengan cepat tanggap dan tepat tanggap serta dapat meningkatkan keseganan peserta terhadap pribadi Danlap tersebut. Keseganan tersebut akan timbul seiring Danlap tersebut dapat menyikapi permasalahan yang sedang terjadi di tengah peserta dengan tindakan maupun kebijakan yang beresensi mendalam, rasional dan pendapatnya tidak terkesan sempit. Begitu pula pada masa persiapan dengan tim mamet akan dapat memberikan saran metode yang mungkin lebih baik serta pertimbangan – pertimbangan yang tidak sempat dipertimbangkan oleh tim mamet. Dan terlepas dari hal – hal tersebut, berpikir Kritis dan Komprehensif adalah dasar pola pikir yang harus dimiliki seorang perencana itu sendiri.

Dari materi ini pun saya sadar dan merasa bahwa saya harus menceritakan apa – apa yang selama ini menghambat kinerja dan performa saya dalam mengikuti sekdan ini. Saya harus membantu sang Ratu dan rekan – rekan saya yang lain untuk berpikir Kritis dan Komprehensif dalam menyikapi saya yang merupakan salah satu biang kerok permasalahan di angkatan karena adanya tuntutan eksternal tersebut. Dan begitulah yang terjadi hari ini.. Ketentraman dan kemuliaan kembali hadir pada meja bundar para Kingsmen.. Perjuangan masih panjang..




Jumat, 01 Juni 2018

Sekolah Danlap 2018 : Day 3, Menggali Esensi dan Makna Tersembunyi Part 3


Sekolah Danlap 2018 : Day 3

Menggali Esensi dan Makna Tersembunyi Part 3

Mungkin tidak bertele – tele seperti biasanya. Kini saya mencoba menarik kembali apa yang telah saya dapatkan sebelumnya dengan apa yang saya dapatkan hari ini. Bayangkan sebuah mesin dengan roda gerigi, yang mesin ini selalu digunakan untuk satu tujuan. Tentunya mesin atau secara spesifik roda gerigi ini memerlukan tenaga atau bahan bakar untuk melakukan kerjanya, ambilah asumsi disini bahwa mesin ini tidak bisa berjalan tanpa menggunakan bahan bakar yang sama yakni bensin misalkan. Maka apabila mesin atau roda gerigi itu dapat bergerak untuk mencapai tujuan keberadaannya, keberadaannya tidak akan terlepas dari bahan bakarnya yakni bensin dan tidak dapat dipungkiri pula bahwa seiring berjalannya waktu bahan bakar ini akan habis. Sehingga perlu adanya saat – saat dimana bahan bakar ini diisi ulang yang mana bahan bakar yang digunakan harus memiliki ‘jenis’ atau ‘substansi’ yang sama dengan sebelumnya agar mesin atau roda gerigi ini dapat bekerja optimal dalam mencapai tujuannya.

Dalam pengibaratan diatas, maksud dari mesin atau roda bergerigi yang bergerak dalam mencapai suatu tujuan disini adalah HMP Pangripta Loka itu sendiri. Maka sumber tenaga atau bahan bakarnya disini adalah kita sebagai warga HMP itu sendiri. HMP ini tidak akan pernah mencapai tujuannya dan bahkan keberadaannya pun tidak akan berarti apabila tidak ada partisipasi dan kontribusi aktif yang diberikan oleh warganya yang mana  tetap harus bersesuaian dengan nilai – nilai yang ada. Dan konteks warga disini pun secara tidak langsung terikat dalam sebuah sistem yang bersifat siklis dimana didalamnya terdapat unsur regenerasi sumber daya manusianya. Hal ini tidak dapat dihindari bahwa memang ada kalanya ketika warga di HMP ini harus memasuki jenjang – jenjang kehidupan berikutnya diluar lingkungan perkuliahan. Maka pada satu titik, HMP memerlukan suatu proses penerimaan warga baru yang mana warga baru tersebut harus memenuhi sebuah nilai dan standar yang telah ditentukan oleh HMP itu sendiri agar dapat mencapai tujuannya. Proses inilah yang disebut dengan Kaderisasi, proses penerimaan warga baru kedalam suatu organisasi yang didalamnya harus terdapat penanaman dan penekanan nilai yang harus dimiliki oleh suatu organisasi.

Dari balik kacamata yang lebih luas, ketika kita tinjau dari sisi kehidupan secara seluruhnya, kaderisasi merupakan suatu proses yang tidak akan terus berlanjut hingga orang yang bersangkutan mati. Hal ini digambarkan dengan bagaimana kita telah dikader oleh orang tua kita pada jenjang keluarga hingga nanti pada jenjang dunia kerja nanti, proses kaderisasi akan selalu ada. Karena pada dasarnya, proses kaderisasi akan melahirkan sebuah peran dalam diri orang yang dikadernya, dan dalam seluruh jenjang kehidupan itupun kita dituntut untuk selalu memiliki peran. Namun dari balik kacamata yang lebih sempit dimana kita meninjau kaderisasi pada sebuah organisasi, kaderisasi akan terus berlanjut hingga nanti organisasi ini bubar entah karena kehilangan nilai dari organisasi itu sendiri atau karena organisasi tersebut sudah mencapai tujuannya.

Untuk Kaderisasi di HMP secara spesifik, Kaderisasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kapasitas SDM pada HMP itu sendiri. Konsep yang digunakan pada Kaderisasi HMP saat ini adalah konsep penurunan nilai dan berjenjang. Pada dasarnya makna nilai di HMP dibagi 2, yakni profil dan budaya. Namun karena budaya pada HMP itu sangat dinamis bersesuaian dengan zaman, Kaderisasi HMP hanya menekankan pada penanaman profil. Profil yang wajib dipenuhi oleh warga baru agar memenuhi standar sebagai warga disini ada 10 poin yang mana 3 poin berasal dari AD/ART, 3 poin dari kurikulum planologi dan 4 lainnya berasal dari mimpi kepengurusan. Poin ini masih bisa bertambah bersesuaian dengan kebutuhan HMP pada kala itu. Selanjutnya pemaknaan dari berjenjang ini didapat dimana profil yang akan ditanamkan pada warga baru tersebut dilakukan secara berjenjang, dibagi dalam level – level didalam 3 tahap penanaman dan pengembangan nilai.